Ulasan Film Kucumbu Tubuh Indahku yang Menang FFI 2019

Kabar membahagiakan datang dari film Kucumbu Tubuh Indahku yang baru saja memenangkan penghargaan FFI 2019. Setelah memenangkan penghargaan tersebut dan setelah melalangbuana ke negara-negara lainnya dengan mengikuti festival-festival beken internasiona mulai dari Australia sampai Perancis, film Kucumbu Tubuh Indahku akhirnya bisa kembai tayang di Indonesia.

Kucumbu Tubuh Indahku mungkin bisa saja Cuma mengisahkan perjalanan batin berliku seorang penari tradisional, Tari Lengger Lanang. Akan tetapi dari kacamata Garin Nugroho, film ini mencoba memotret hal lainnya yang lebih luas dari sekedar Cuma kisah seorang penari saja, yaitu penghakiman sepihak.

Tentang Film Kucumbu Tubuh Indahku

Kisah film ini mencerminkan sebagian sikap sebagian masyarakat Indonesia yang konon beragam akan tetapi faktanya sulit sekali menerima perbedaan. Hal ini lalu menekankan sebagian pihak lainnya sehingga menghadapi berbagai kesulitan menjalani kehidupannya.

Dalam film ini, digambarkan bahwa kesulitan yang dialami oleh Arjuno (Muhammad Khan) berkaitan dengan identitas ekspresi gendernya sejak kecil yang telah membuat dirinya sulit untuk berkomunikasi. Ditambah lagi dengan penghakiman dari lingkungannya tanpa adanya sifat rasa kemanusiaan atau pun empati. Tidak heran kalau banyak sekali beban hidup yang dirasakan oleh Juno di usianya yang tergolong belum matang.

Di sisi lainnya, pelampiasan hasrat diri dari sosok Juno di tarian Lengger Lanang ternyata juga tidak menolongnya untuk membuat masyarakat bisa lebih mengerti. Juno pasalnya masih saja mengalami kesuoitan mengejar rencananya itu. Dalam hal ini, nampaknya mimpi film La La Land tak berlaku di Indonesia atau memang film Barat bisa dikatakan kelewat utopis?

Padahal Tarian Lengger Lanang sebetulnya awam dibawakan oleh laki-laki dewasa Banyumas, Jawa Tengah. Tarian tersebut diketahui sudah ada bahkan sejak abad ke-18 dan tercatat dalam Serat Centhini. Akan tetapi masyarakat –yang aman dalam film tersebut berlatar di era reformasi- sayangnya menolaknya.

Ulasan Film Kucumbu Tubuh Indahku

Di dalam film ini Garin Nugroho mencoba untuk menampilkan bahwa kelompok marjinal yang mana diwakili Arjuno dan teman-teman lenggernya jadi korban dari kepentingan politik dari segelintir orang. Fenomena itu juga sebetulnya terjadi cukup sering di dunia nyata.

Sering sekali, demi politik, kelompok minoritas dijadikan tumbal mereka. Namun alih-alih mereka mendapatkan perlindungan atau pun hak yang sama dengan mereka mayoritas, malah mereka hanya jadi tumbal dan pancingan saja.

Tak Cuma itu, di dalam film ini ada catatan penting juga yaitu film ini merupakan kebudayaan asli Indonesia yang kerap kali jadi korban politik, seperti misalnya dicap sebagai wadah komunisme, menentang agama atau klenik. Padahal kenyataannya adalah kebudayaan tersebut lahir dari masyarakat yang lalu dikebiri demi budaya dan  ego segolongan umat.

Berbagai macam potret social itu coba dibawakan oleh Garin Nugroho sesuai dengan gayanya yang artistic dan juga ‘festival.’ Meski, harus diakui bahwa film Kucumbu Tubuh Indahku ini lebih pop jika dibandingkan dengan karya-karya Garin yang sebelumnya sekaligus yang pada akhirnya bisa agak dimengerti.

Walau demikian film dengan karakter lintas gender, lebih-lebih menyinggung soal orientasi seksual yang beda dibandingan pemahaman umum masyarakat ini memang tak mudah dibuat, bahkan bagi Garin Nugroho. Garin menampilkan fenomena social dalam ini dan itu sah-sah saja karena itu potret factual. Akan tetapi, karena bersinggungan dengan hal yang cukup sensitive dengan pemahaman masyarakat saat ini, kontennya mesti disampaikan dengan sangat hati-hati. Anda tertarik menontonnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *