Iran Berikan Sinyal Meredakan Eskalasi Konfliknya dengan AS

Iran pasalnya memberikan sinyal bahwa mereka ingin mengurangi eskalasi konfliknya dengan AS setelah 10 hari bersitegang. Dalam pertemuan antara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, dan Presiden Iran, Hassan Rouhani, kedua belah pihak pasalnya sepakat bahwa penurunan eskalasi merupakan satu-satunya solusi untuk mengakhiri krisis di kawasan.

Iran Beri Sinyal Penurunan Eskalasi

“Kami telah memutuskan untuk melakukan lebih banyak konsultasi dan juga kerja sama untuk keamanan seluruh wilayah,” ungkap Rouhani.

“Kami sepakat juga bahwa satu-satunya solusi untuk krisis ini adalah de-ekskalasi dari semua pihak dan dialog,” ungkap Heikh Tamim bin Hamad Al-Thani, hari Minggu (12/1), begitu lah yang dilansir dari CNN Indonesia.

Ketegangan antara AS dan juga Iran meningkat setelah perwira tinggi militer Iran yaitu Mayor Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan pesawat tidak berawa di tanggal 3 Januari 2019 lalu. Iran kemudian mengutuk keras serangan AS ini dan bersumpah mereka akan membalas apa yang telah dilakukan oleh AS atas kematian Soleimani dengan ganjaran yang sebesar-besarnya. Sejak saat itu lah, sejumlah rudal dan juga roket menghantam basis AS yang ada di Irak.

Rudal Iran Tak Bermaksud Bunuh Personel Militer AS

Salah satu rudal Iran, secara tak sengaja, menembak jatuh pesawat Ukraina dengan nomor penerbangan PS752 yang mana menewaskan 176 orang penumpangnya. Namun Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa pemerintahannya dan juga pemerintah Iran bakal bersama-sama membuka kotak hitam (black box) yang ada di peswat milik Ukraine International Airlines yang kena tembakan rudal yang salah sasaran itu.

Qatar adalah salah satu negara yang berada di kawasan yang memiliki paling banyak pasukan AS. Akan tetapi, Qatar juga mempunyai hubungan yang kuat dengan Iran, di mana mereka pasalnya juga berbagi lading gas paling besar di dunia. “Kunjungan ini terjadi di saat yang kritis di kawasan itu,” ungkap Emir Sheikh Tmim bin Hamad Al-Thani.

Presiden Iran pun juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi. Ia mengunjungi Teheran di hari Minggu kemarin untuk mengurangi ketegangan yang ada. Dalam briefingnya ke parlemen, komandan Pengawal Revolusi Iran, Hossein Salami, menyatakan bahwa serangan rudal hari Rabu lalu di pangkalan Irak yang mana menampung pasukan AS itu tak ditujukan untuk membunuh para personel Amerika. “Tujuan kami bukan untuk membunuh tentara musuh. Itu tidak penting,” ungkapnya pada parlemen. AS juga mengatakan tak ada tentara yang terluka dalam serangan tersebut.

Akan tetapi, di tengah seruan untuk mengurangi ketengangan itu, serangan rudal kembali lagi menghantam basis tentara AS yang ada di pangkalan militer Irak hari Minggu (12/1) kemarin. Delapan buah rudal pasalnya berturut-turut menghujani pangkalan militer udara Al-Balad yang ada di Baghdad sampai melukai 2 orang perwira Irak dan juga dua penerbang.

Pangkalan tersebut pasalnya berisikan pasukan Angkatan Udara AS dan juga kontraktor. Akan tetapi sebagian besar sudah dievakuasi menyusul adanya ketegangan antara AS dan juga Iran selama 2 pekan terakhir.

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS, mengutuk serangan itu. “Ini pelanggaran terus-menerus atas kedaulatan Irak oleh kelompok-kelompok yang tak loyak pada pemerintah Irak dan ini mesti diakhiri,” ungkap Pompeo. Namun demikian, sampai dengan saat ini belum ada pihak yang mengklaim siapa kah yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *